N.B. Ini cerpen yang kubuat pada tanggal 20 November 2014. Yap, udah lama sekali, tapi lupa ku-publish. Dan, yap, ini kisah nyata yang ditulis menjadi fiksi. Tapi kalau sekarang yah... aku udah benar-benar move on sih, jadinya pas baca ini lagi (sekarang) malah ngakak sendiri. Tulisan ini nggak ada yang kuubah dari dua tahun yang lalu. Selamat menikmati~
Malam yang amat dingin di musim penghujan.
Napas lelah yang kukeluarkan mengepul merayapi hawa dingin yang menusuk tulang. Aku mengusap wajah letihku, berharap kantuk yang kurasakan menghilang secepatnya. Masih jam sembilan lewat dan masih ada beberapa rangkaian acara yang harus dilalui.
Ah, malam masih panjang, Kawan.
Merapatkan jaket tebal yang kukenakan, kuputuskan untuk beristirahat sejenak setelah sejam berdiri tegak dalam barikade melaksanakan peran yang kuperoleh. Kedua kakiku membawaku keluar dari barisan, berjalan menuju kerumunan panitia yang sedang tidak bertugas. Mereka bercakap-cakap dan aku menyerobot masuk, mengikuti alur percakapan.
Sesekali aku bicara, sesekali aku mendengarkan, dan banyaknya aku tertawa.
Dan saat giliranku berbicara untuk yang ketiga kalinya, aku membisu seketika. Kalimatku terpotong oleh geming yang kuciptakan. Kegemingan yang tercipta kala sepasang iris gelapku bersitubrukan dengan keberadaan pemuda yang tak pernah kusangka-sangka sebelumnya.
Dia… datang…?
Bersabarlah, Sayang
Sebentar lagi aku kembali
Sebentar lagi aku akan bebas dari belenggu sandiwara ciptaanku sendiri
Hei, kau. Ya, kau. Apa kabar?
Pagi ini rintik air membuncah lebat dari atas langit. Sembari berjalan aku melebarkan payung, beruntung mendengarkan laporan cuaca terlebih dahulu sebelum beranjak pergi dari flat. Aroma rerumputan basah menyapa indera penciumanku, membimbing benakku kepada hal-hal rileks yang sejenak melupakanku dari kuis mekanika fluida dua jam lagi.