Showing posts with label angst. Show all posts

Embun


sumber gambar: tips.purence.com

Telah kutemukan embun di balik tunduknya dedaunan lesu
Pada jendela yang diketuk semilir gulita
Semerbak pendar bermalu-malu mengendap
Sembunyi di atas ilalang basah
Membisik-bisik asa, memperingat akan rendah
Lantas bersenyum cerah mencela

Akui


N.B. Puisi ini (sebentar, ini bisa disebut puisi kah?) sengaja straightforward tanpa diksi yang dipelintir. 


sumber gambarimg.medscape

Salahkah ia, 
bila sebilah belati dihunuskannya, 
hingga tepat mengenai daerah hidup-dan-mati yang bertengger di balik helaian iganya?

Salahkanlah ketajaman benda itu, wahai Sang Pencipta Alam

Kausebut Apa Aku?


sumber gambar: http://ci.memecdn.com/

Tersungging engkau menyambut senja
Pada pekat yang harusnya kauberi kecut roman
Hingga kujerahkan lelahmu menjadi lengang
Dengan lukisan jingga pada kanvas angkasa

Kapan Pernah


sumber gambarwww.patrickweaverministries.org

Kutanya padamu, kapan pernah aku berhenti berharap?
Karena, bagaimana bisa, aku yang dahulu begitu mencinta, menceraikan kita yang tak pernah tidak bersama?

A Story Next Door: Ayah, Jangan Tertawa!



Hari-1.

Ayah, siang ini lagi-lagi matahari mengikutiku ke manapun aku pergi. Bulan dan bintang juga! Jangan-jangan aku ini sebenarnya pemuka angkasa, makanya benda-benda langit mengikutiku terus?

Lho, Ayah kok tertawa? Apa? Cuma perasaanku aja? Eh? Imajinasiku terlalu liar? Ih, Ayah, aku bicara serius, kok!

---

Hari-28.

Ayah, sore ini aku menemukan awan berbentuk kura-kura di langit! Ada beruang, macan, dan lumba-lumba juga! Apa tidak apa-apa hewan berada di langit, Yah? Kalau mereka pup sembarangan, kasihan orang-orang yang di bawah, ya kan?

Ih, Ayah, kok tertawa lagi, sih? Aku kan khawatir. Mr. Smith, guru bahasaku, bilang kita harus bersimpati pada orang-orang dan lingkungan sekitar. Jangan ditertawakan dong, Yah!

---